Program Perawat Indonesia Ke Jepang

 Nippon?  Japan? Jepang? Apa yang kita pikirkan tentang negara ini? Atau, pernahkah kamu memiliki impian untuk kerja sebagai perawat di negara ini?

Nama negara yang dekat dengan telinga orang Indonesia. Bukan hanya karna pernah menduduki Indonesia selama 2 th, bukan hanya karna bung Karno menikah dengan orang Jepang tapi karna salah satu negara maju di kawasan Asia yang salah satu nya adalah unggul dalam memproduksi kendaraan. Seingat saya, Babeh, Mertua, Abang, Ade, Empok, Sodara sodara, tetangga saya semuanya pakai motor buatan Jepang.. ^.^

Saya  mau coba cerita tentang program pengiriman perawat Indonesia ke Jepang. Hal ini didasarkan banyak juga teman teman perawat yang menanyakan tentang program ini, mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa membantu dan bisa berbagi pengalaman sejak datang ke Jepang 2008 lalu. Jika bermanfaat syukur Alhamdulillah, kalau ada yang salah jangan pada protes..hehe

Program pengiriman perawat ke Jepang angkatan pertama tahun 2008 lalu. Terbagi dalam dua program, yakni Nurse (Kangoshi) dan  Caregiver (Kaigofukushishi). Program ini adalah Government to Government (G to G), atau program antara pemerintah Indonesia dan Jepang, yang menurut saya sangat memiliki ikatan politik, ekonomi, perdagangan, Psikologis yang sangat kuat dalam rangka Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Dari berbagai informasi yang saya dapat, sebelum ada program ini Jepang belum pernah membuka `kran` untuk tenaga kerja resmi yang bekerja di Jepang. Oleh karena itu, sejak kedatangan th 2008 lalu hingga saat ini (2016) berita-berita tentang Program ini sering masuk dalam koran, TV maupun berita lainnya. Saya ingat betul tahun 2008 lalu, hampir semua teman-teman baik saat kami masih di Indonesia (3-4 hari sebelum berangkat) hingga sampai saat tiba di Jepang, hari- hari di Jepang, Belajar, Bekerja di RS, kehidupan di rumah, Ujian, Gagal Ujian, Lulus Ujian sering diliput oleh para wartawan di Jepang. Kedatangan Perawat Indonesia ke Jepang menjadi perhatian serius masyarakat jepang dan pemerintah jepang karna merupakan sejarah baru bagi kedua belah pihak negara.

Untuk program kangoshi, Jika ingin bekerja terus di Jepang bekerja sebagai kangoshi peserta di wajibkan lulus ujian nasional keperawatan Jepang dengan soal, bahasa, tulisan yang sama dengan orang Jepang. Diberikan kesempatan Ujian selama 3 kali dalam waktu tiga tahun (1x/tahun) , Jika gagal maka peserta harus kembali ke Indonesia atau bisa memperpanjang kontrak kerja satu tahun (sesuai kesepakatan tempat kerja dan peserta). Sedangkan Kaigofukushishi,  sama seperti kangoshi Jika ingin bekerja terus di Jepang sebagai kangoshi peserta di wajibkan lulus ujian nasional Caregiver Jepang dengan soal, bahasa, tulisan yang sama dengan orang Jepang. Diberikan kesempatan Ujian selama 1 kali dalam waktu tiga tahun (1x/3tahun) , Jika gagal maka peserta harus kembali ke Indonesia atau bisa memperpanjang kontrak kerja satu tahun (sesuai kesepakatan tempat kerja dan peserta). Berat? penuh tekanan? ya, benar benar berat dan penuh tekanan, hanya yang siap jungkir ngga balik balik dalam belajar, siap mental dan tahan banting yang saya sarankan ikut program ini, kalau cuma yang penting bisa ke Jepang asal cari pengalaman dan mau jalan-jalan saja lebih baik pikir-pikir dulu 3-4 kali. huwaaaa maaf ya kalo sok-sok an bicara keras..hehe

Bagaimana cara pendaftaran nya, apa bedanya program Kangoshi dan Kaigofukushishi, apa saja syarat-syaratnya, semuanya bisa di lihat di http://www.bnp2tki.go.id/gtog_jepang/indeks/prosedur `cuma pesan saya, jangan percaya calo, tukang suap dan tukang tipu ya! karna diatas saya sudah ceritakan, ini program G to G bukan swasta yang saya yakin 100% tidak ada orang yang bisa menjamin menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk. Bagimana trik-trik agar lulus bisa lolos dan berangkat ke Jepang, nantikan tulisan berikut nya ~,~

Bagaimana dengan Bahasa nya? takut nih, saya ngga bisa bahasa jepang, bahasa Inggris juga ngga bisa, Selain Bahasa Indonesia saya hanya bisa nyunda sareung boso jowo? Jangn menyerah dan putus harapan,  Menurut saya bukan masalah, bhs sunda dan jawa itu aja udah lebih dari cukup karena hampir semua orang Indonesia  `tetangga` saya di Tokyo dan sekitarnya orang sunda dan orang Jawa. Jadi, kalau soal bahasa jangan takut dan jangan khawatir karena sebelum di tempatkan di rumah sakit,  selama 6 bulan (utk angkatan 1) atau 1 tahun (angkatan sekarang) kita diberikan pelatihan bahasa Jepang. Pengalaman saya selama 6 bulan ditempat pelatihan bahasa jepang (dulu AOTS, sekarang HIDA) di berikan materi materi bahasa Jepang, budaya dan cara kehidupan di Jepang dengan staff, guru, lingkungan yang luar biasa. Fasilitas seperti asrama seperti hotel, makan terjamin gratis,  internet gratis, AC pendingin-penghangat 24 Jam, Uang saku 4-5-6 Juta Rupiah/bulan (besar nya uang saku, lupa). Dijamin keluar dari tempat pelatihan bahasa itu, Berat badan bertambah dan kemampuan bahasa jepang juga bertambah (tergantung usaha dan doa, hehe). Biasanya dalam satu kali pengiriman perawat tiap angkatan di bagi ke 2-3-4 tempat pelatihan bahasa, disitu kita merasa senang, masih kumpul bareng dan masih suasana Indonesia banget.

Setelah 6 Bulan di gembleng` dipadepokan pelatihan Bahasa Jepang, disitulah kita merasa sedih. Mulailah  memasuki kehidupan Jepang yang sesungguhnya, Perawat Indonesia baik program kangoshi dan kaigofukushi akan dilepas ke tempat kerja masing-masing, sesuai dengan lokasi tempat kerja. Bersyukurlah jika di tempat kerjanya sudah ada senior angkatan sebelumnya, masih ada peluang untuk bertanya, atau ditempatkan di kota-kota besar lain nya, tapi bagi mereka yang tidak mempunya senior atau tinggal dikota kecil saling telfon, email, Facebook atau mencari komunitas Indonesia didaerah tersebut menjadi hal yang wajib jika tidak ingin merasa kesepian.

Bagaimana kerjanya? Belajar nya gimana? ada Ujiannya ya?, kenapa harus ada ujian ?? sering kali saya dapat pertanyaan seperti itu, saya ingin coba berbagi cerita dengan kapasitas pengalaman saya sebagai calon kangoshi dan setelah lulus ujian kangoshi di Rumah Sakit. Sebelum lulus ujian nasional keperawatan di Jepang, Jangan bayangkan bisa kerja sebagai perawat seperti hal nya pekerjaan perawat di Indonesia, jadi asisten perawat pun ngga bisa, bahkan jadi seperti mahasiswa keperawatan di Indonesia yang dari tingkat I sudah infus, IM, IV, ambil darah dll pun ngga bisa. Kenapa? karena disini semua sudah diatur dengan baik didalam UU Kep Jepang, hanya Orang yang sudah mempunyai Lisensi Keparawatan (Registered Nurse, RN) Jepang saja yang bisa melakukan tindakan keperawatan. Menurut saya, Jepang itu adalah Negara Lisensi, hal apapun yang bekerja secara profesional memerlukan lisensi, tukang cukur rambut harus punya lisensi, apalagi perawat yang terkait dengan keselamatan pasien. Lalu, bagaimana dengan Ijazah kita di Indonesia atau sudah lulus ujian kompetensi di Indonesia, `boro-boro` yang dari jebolan Indonesia yang punya RN nya Filiphina atau RN nya Amerika pun kalau seandainya ingin bekerja di Rumah Sakit Jepang tetap harus punya Lisensi nya Jepang, kalau ngga punya ? tidak bisa bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit. Kok gitu ? ya, karena Bahasa Inggris, tulisan inggris, tidak dipakai saat bekerja atau karna masalah keperawatan masing masing tiap negara berbeda, kita diwajibkan mengetahui isu-isu, topik-topik kekhususan masalah keperawatan di Jepang.

To be continue ….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s